Ketika Cinta Ber-NU

***

Saat pertama kali kita bertemu, hatiku telah sepakat ber-jam’iyyah denganmu. Bagai sepasang hati yang menyatu, memiliki ikatan dan aturan baku.

Mungkin sudah khittah-ku sebagai santri: menempuh jalan keridoan dan mencari halalmu bagiku.

Aku akan sungguh-sungguh merekam semua syarat dan isyarat ayahmu, bagai khatib sang juru catat dalam dewan Syuriyah NU.

Aku menghormati ayahmu, sama seperti kau mencintai dirinya sebagai Mustasyar hidupmu. Sosok yang kau hormati, bijak, dan senantiasa menjaga serta memberimu nasihat.

Tak sanggup diriku berani melangkahi izin ayahmu, atau menabrak garis-garis dasar ideologi demi mencintaimu.

Bagi sepasang kekasih NU dan Fatayat yang taat, kita telah sepakat, bahwa qanun asasi adalah cinta kita yang keramat.

Saat lampu hijau sudah ayahmu berikan, dan kita menghadapi kesulitan pernikahan. Tenang! telah aku persiapkan teman-temanku dari berbagai pondokan sebagai A’wan yang siap meringankan beban.

 

***

 

Jangan kau gelisah, Nengku, aku sudah juga siapkan seperangkat Lembaga dan Lajnah Tanfidziyah. Bertugas mengatur dan menghantar kita, tidak hanya ke pelaminan saja, namun bahkan sampai ke surga.

Sebagai pengantin pria, aku berkomitmen untuk berusaha membuatmu bahagia, dan sebagai Koordinator Lembaga Dakwah sudah seharusnya aku menjagamu agar tidak terjerumus salah.

Kita bangun keluarga dengan menerapkan prinsip moderat dan kemanusiaan. Dan selama berfikir kita masih dalam lingkar Lakpesdam, insyaAllah pondasi keluarga kita tetap di jalan ahkam.

Anak kita ganteng, cantik, dan pintar mengaji. Meski hanya buruh tani, tapi keluargaku tetap santri.

Oleh karenanya, kita terbiasa membaca Quran sebagaimana kita paham maksud dan arti koran yang kita baca tiap petang; Dan hanya di LPQ Qur’an kita baca dan kita kaji.

Ekonomi keluarga kita insyaAllah kuat, dan susu anak kita tidak telat, selama prinsip Lembaga Perekonomian ada usaha dan upaya untuk ditingkatkan.

Agar tidak kering, dan terlampau keras menjalankan prinsip syariat dan agama. Keluarga kita butuh sentuhan Lesbumi. Demi mengayomi kearifan lokal dan budaya Nusantara.

“Di surau dekat balai desa, anak kita merdu suaranya. Baca tartil surat Ad-Dhuha pakai langgam Jawa.”

Kepada Lajnah pun tak perlu kau resah. Atas pertolongan Allah, semua akan indah. Seperti Lajnah Falakiyah yang siap melakukan rukyah dan memastikan bagi kita tanggal merah.

Cinta kita kekal terpahat di atas bebatuan. Serat motifnya kokoh memancar. Seperti Lajnah Ta’lif wan Nasyr, Dawam dalam tulisan, bersinar dalam pemikiran!

“Neng, kitalah sepasang aswaja yang cintanya paling bernyawa, melebihi cinta Qays ke Layla.”

Oleh: M. Tajul Mafachir

Tinggalkan Balasan