Perempuan dalam Membangun Ekonomi Keluarga

Dalam konstruksi masyarakat yang patriarki, laki-laki memegang posisi superior yang membuat mereka memiliki beberapa keunggulan dan menjadi yang diutamakan. Dengan kata lain, mereka adalah gender nomor satu. Sementara itu, perempuan, meminjam istilah dari Simone de Beauvoir, merupakan the second sex atau gender kedua. Perempuan juga dipandang sebagai mereka yang liyan—the others—yang terpinggirkan dalam konstruksi masyarakat patriarki sehingga apa-apa yang ada pada diri mereka dikesampingkan, perempuan hanya diberi ruang domestik.

Baca juga Arus Sejarah Peradaban Perempuan

Namun saat ini dogma seperti itu sudah jarang ditemukan, masyarakat memiliki pandangan lebih bijak dan adil untuk perempuan. Perempuan diberi hak yang sama untuk berperan di luar domestik atau yang biasa disebut dengan peran publik. Maka,  perempuan memiliki peran ganda dalam keluarga yakni perempuan di ruang domestik yang bertugas dan bertanggung jawab sebagai seorang istri. Sedangkan, perempuan di ruang publik menjadi tugas tambahannya sebagai karir, aktifis dan lainnya.

Pemenuhan kebutuhan dari aspek ekonomi menjadi hal paling mendasar dalam sebuah keluarga. Laki-laki sebagai tulang punggung keluarga memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan nafkah dalam keluarga. Namun pada banyak fakta yang terjadi, bahwa tak semua kepala keluarga mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, dan pada akhirnya perempuan sebagai istri harus ikut berkontribusi dalam mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Dalam kacamata Islam, kedudukan laki-laki dan perempuan ialah sama termasuk sebagai pencari nafkah. Sebagaimana tercantum dalam QS. at-Taubah: 105

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Maknanya:

“Dan katakanlah bekerjalah kalian maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian”

Islam sebagai agama yang adaptif dan solutif. Islam memberika pilihan terhadap perempuan yang ingin bekerja membantu perekonomian keluarga selama tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri dapat dipenuhi. Bagi perempuan yang berperan ganda, haruslah mampu menjalankan keduanya secara seimbang sehingga tidak memicu munculnya persoalan dalam rumah tangga, terlebih jika niat untuk bekerja sebagai upaya untuk membantu suami dalam memenuhi kebutuhan ekonomi.

Sebagai bukti bahwa Islam adalah agama yang tidak membatasi perempuan dalam hak ekonominya adalah ketika beberapa sahabat perempuan menunjukkan ketokohan mereka dalam partisipasi di bidang ekonomi. Istri Nabi, Sayyidah Khadijah r.a., merupakan tokoh pengusaha perempuan sukses yang kaya raya di Makkah.

Perekonomian dalam Islam merupakan sesuatu yang fundamental dan bernilai positif.  termasuk ketika seorang perempuan yang ingin bekerja dalam rangka peningkatan produktivitas dan menjadi penyangga ekonomi keluarga dengan tetap mematuhi aturan yang telah ditetapkan agama. Dengan tetap mengantongi rida dari suami beberapa hal yang harus diperhatikan perempuan Ketika memilih bekerja di luar rumah:

  1. Pekerjaannya sesuai dengan prinsip-prinsip Islam
  2. Tidak boleh meninggalkan ibadah
  3. Amanah dan jujur dalam bekerja maupun berkata
  4. Berpakaian sopan dan menutup aurat.

Hal-hal tersebut bukan untuk membatasi ruang lingkup perempuan namun mencerminkan betapa ajaran Islam sangat menjaga dan melindungi perempuan. Maka, tidak berlebihan Islam memiliki konsen terhadap isu hak, keadilan dan kesetaraan bagi perempuan. Meskipun demikian implementasi dari prinsip-prinsip ini dapat bervariasi tergantung pada aspek kultur, tradisi, dan kebiasaan masyarakat setempat. Sehingga perlu upaya-upaya untuk memastikan bahwa hak-hak perempuan dihormati dan dilindungi sebagaimana semestinya.

*Hasil Diskusi Women’s Talk vol.3 yang diinisiasi oleh Bidang Pendidikan PCI Muslimat NU Sudan

Oleh: Nidaan Khafiya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: