Manusia Langit dan Bumi

Sumber gambar: psikologimultitalent.com

Keseimbangan dalam kehidupan tidak akan luput dari bahan bakar berupa kesadaran spiritual, kesadaran intelektual, berkecukupan ekonomi, antusiasme dalam dinamika sosial, dan kesehatan jiwa serta raga. Hal tersebut merupakan dimensi yang harus dipenuhi sebagai manusia yang bersifat vertikal dan horizontal.

Baca juga Mengenal Bangsa Arab Pra-Islam dan Alasan Disebut Zaman Jahiliyyah

Vertikal berarti kewajiban yang bersifat akhirat, meliputi agama, ibadah, ilmu, dan adab yang dirangkum dalam spiritualitas. Sedangkan horizontal berarti kewajiban yang bersifat duniawi, meliputi pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan, makan, minum, dan tidur yang dirangkum dalam aktivitas sosial. Tuntutan keakhiratan dan keduniawian harus saling berkesinambungan. Jika hanya mementingkan salah satu saja akan menimbulkan kepincangan.

Dunia tidak akan lepas dari ruang dan pentingnya manajemen waktu. Jika peluang dalam segala lini tidak dimanfaatkan maka akan tersia-siakan, seperti kata pepatah “waktu membunuhmu” sehingga kita perlu menyusun rancangan gagasan agar tepat dengan ruang dan waktu sebuah peluang.

Ruang sebagai tempat sebuah tantangan. Dalam menghadapi tantangan diperlukan strategi. Strategi membutuhkan nalar orisinalitas agar hal baru dapat bermunculan. Hal baru seyogyanya tidak mengabaikan sesuatu yang telah terbangun, melainkan pembaharuan terbangun dengan bentuk yang baru.

Perkara yang telah dipaparkan di atas meliputi kesimbangan fisik dan jiwa, hubungan antara Allah Swt. dan manusia, manusia dengan alam, dunia dan akhirat, serta zikir dan fikir. Tidak mementingkan salah satunya, sebab jika hanya mementingkan salah satu di antara yang disebutkan dapat mengakibatkan kejumudan. Senada dengan firman Allah Swt. berikut.

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al Qashash (28): 77).

Hal yang dapat dipetik dari ayat tersebut adalah sebagai muslim yang taat tidak akan lepas dari sebuah pencarian kebahagiaan dunia dan akhirat. Manusia di dunia bertugas memakmurkan sekitarnya bukan merusak apa yang telah disediakan Allah Swt. untuknya.

Penulis: Gugus Budi Hartawe. Mahasiswa Fakultas Syariah International University of Africa, Alumnus Perguruan Islam Mathaliul Falah, dan merupakan aktivis Lakpesdam NU Sudan.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: