Anti Pancasila

Pancasila sebagai ideologi negara, yang sudah puluhan tahun dipegang erat oleh bangsa Indonesia, merupakan wujud nyata dari keberhasilan persatuan dalam mewujudkan kedamaian dalam bernegara. Tak hanya nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, tetapi juga menjadikan penyemangat bagi bangsa Indonesia untuk terus rukun dan bergotong royong membangun negeri menjadi lebih baik dan sejahtera. Ibarat negara ini bangunan, Pancasila adalah fondasi yang mengukuhkan bangunan.

Baca juga Mawaris; Ilmu yang Mulai Terlupakan

Dilihat dari tanggung jawab generasi, pengamalan Pancasila pada dasarnya adalah tanggung jawab generasi penerus. Bahkan dalam sejarah perkembangannya, Pancasila ingin diganti dengan peraturan hukum yang lain dan sering kali diwarnai konflik sosial-politik, baik dalam arus horizontal maupun vertikal, dengan latar belakang yang cukup beragam. Bahkan ketika Era Reformasi tiba meruntuhkan Orde Baru, Pancasila pun ikut terdorong ke belakang. Pancasila dianggap tidak bisa lagi dipergunakan di dalam mengelola bangsa dan negara. Tetapi pada masa Orde Baru, Pancasila diproklamasikan sebagai asas tunggal.

Belakangan ini, tahun 2017, muncul isu-isu hangat yang cukup meresahkan, yakni munculnya sebagian orang yang ingin merekonstruksi Pancasila. Ini membuktikan bahwa kesadaran akan nasionalisme nyata semakin berkurang dengan terus berkembangnya doktrin-doktrin transnasional yang beranggapan bahwasanya Pancasila tidak Islami.

Pancasila Tidak Islami?

Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama mengendap dalam pikiran saya. Saya pikir apa mungkin saya saja yang bodoh hingga tidak mengerti bahwa Pancasila adalah thoghut yang bertentangan dengan Islam. Sejak pertama kali mendengar pembacaan naskah Pancasila di Sekolah Dasar, tidak sekalipun terbersit dalam hati saya bahwa Pancasila ini bisa diartikan bathil. Batin saya selalu terpaku pada sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Ini sudah sangat Islami sekali menurut saya.

Hal ini selaras sekali dengan yang diajarkan guru mengaji saya, juga pujian di kampung halaman setiap menjelang salat berjamaah. Allah wujud, qidam, baqo’, mukhollafatun lil hawaditsi sampai wahdaniyat. Pas! Klop sekali dengan Pancasila. Saya mantap, sejak masih Sekolah Dasar, yang membuat Pancasila ini sangat Islami.

Ketika SD, sila pertama itulah yang membuat saya yakin bahwa empat sila berikutnya juga Islami. Waktu itu, saya belum bisa mencari dalil-dalil yang mengukuhkan bahwa Pancasila memang tidak bertentangan dengan Islam. Dan sudah, tidak ada pikiran kritis sama sekali yang menyangsikan Pancasila. Baru ketika masuk pondok pesantren, mulai paham bahwa dalam Islam mengajarkan seseorang untuk tidak boleh berbuat zalim, harus memanusiakan manusia, harus adil, bersatu padu dan bergotong royong, Nabi Muhammad saw. mengajarkan para sahabatnya bermusyawarah dan memberikan hak pada tempat yang semestinya.

Dengan ajaran pesantren yang saya dapat dari guru saya, guru saya dari guru-guru beliau seterusnya hingga pada ulama yang menyaksikan sendiri perumusan Pancasila, belum pernah satu pun yang mengatakan negara kita salah dalam falsafah dasarnya. Pancasila ini sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Nabi saw. atau yang semacamnya. Selama itu, keyakinan saya akan Pancasila tidak semakin meluntur, malah kian bertambah berlipat-lipat.

Siapa yang Anti Islam?

Baru kemudian muncul beberapa kelompok yang teriak-teriak memaki-maki Pancasila, mereka beranggapan negara harus dengan hukum Islam dan segala kegaduhan tetek bengek lainnya. Ini yang memulai keraguan di dalam benak saya. Bukan ragu akan Pancasila, tetapi ragu dengan caci-makian mereka. Pertanyaan yang bergelayut dalam pikiran saya adalah “Apanya yang tidak mereka setujui? Di bagian sila yang mana?” Ataukah justru orang yang anti-Pancasila itu sebenarnya yang anti-Islam? Melihat bahwa keyakinan masa kecil saya di atas bahwa Pancasila ini sudah Islami.

Lalu belakangan ini muncul berbagai macam dalil-dalil agama yang menjelaskan relasi Pancasila dengan agama, yang semuanya menggiring bahwa Pancasila ini Islami. Bagi saya, ini tidak berpengaruh sama sekali. Tidak menggoyahkan keraguan saya pada kelompok anti-Pancasila tersebut dan keyakinan bahwa Pancasila selaras dengan ajaran Islam. Jadi mana sebenarnya yang tidak islami?!

Ada juga kritik pada Pancasila edisi tempoe doeloe yang memosisikan “Ketuhanan Yang Maha Esa” ditempatkan pada sila terakhir. Saya agak melamun panjang mengenai hal ini. Saya memikirkan kenapa draft yang urutannya masih dalam penyusunan dipermasalahkan. Kalau konteksnya adalah Pancasila, maka yang memungkinkan dikritisi adalah Pancasila yang sekarang. Kenapa harus repot dengan Pancasila yang dulu? Namanya juga draft. Coba saja buat sebuah silabus, revisi, atau reposisi, itu kan hal yang biasa?

Lalu tentang “garudaku kafir”. Ini lebih menggelikan lagi. Bisa-bisanya garuda dikafirkan? Seperti tidak ada obyek yang bisa dikafirkan lagi saja. Rupanya hobi mengkafirkan sudah sedemikian mendarah-daging bagi sebagian kalangan dan menjadi candu yang mengendap dalam aliran darah hingga latah melabeli kafir tidak cukup pada manusia saja.

Meski tujuan pemasangan poster adalah untuk mencari perhatian, membuat judul kontroversial agar mendapat banyak pengunjung dalam seminar, gejala ini perlu mendapatkan reaksi serius, memandang banyaknya gerakan anti-Pancasila yang sedang ng-trend. Seperti yang disebutkan dalam video yang diunggah oleh Dheni Hargo pada 20 Juni 2017, para veteran menyaksikan dengan penuh kesedihan sebuah acara deklarasi dukungan terhadap negara Islam. Negara ini merdeka bukan hanya perjuangan umat Islam saja, bukan orang Kristen saja, atau orang Hindu Buddha saja. Pancasila mengakomodir semua pemeluk agama, begitu ringkasnya komentar para veteran yang sudah sangat sepuh itu.

Memaksakan negara Islam untuk negara majemuk seperti Indonesia bukan hanya meludahi perjuangan para pejuang kemerdekaan yang telah berkorban darah demi menyatukan negara ini, tapi juga menebarkan fitnah dan memecah belah rakyat Indonesia.

Penutup

Untuk memahami bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, tidak perlu repot-repot mengetahui Piagam Madinah yang di dalamnya terdapat kandungan yang senada dengan Pancasila, tidak perlu pula menengok perpecahan negara Timur Tengah yang mengakibatkan banjir darah. Cukup dengan belajar kitab akhlak Washoya al-Abaa’ lil Abnaa’ lalu resapi kandungannya!

Di tengah para peneliti penasaran dengan kedamaian Bhinneka Tunggal Ika ala Indonesia, saat banyak orang ingin mempelajari dan menguak rahasia kedamaian dalam pluralitas di Indonesia, saat penduduk negeri konflik mendambakan dan bermimpi bisa dilahirkan di tanah “potongan surga” di bumi Indonesia, lah kok beberapa gelintir rakyatnya justru menebar benih perpecahan, memimpikan ilusi utopis yang sejatinya muncul dari ketidakpahaman esensi dasar agama ini diturunkan.

Penulis: Muthi’ullah Hibatullah

Tinggalkan Balasan