Tujuan Eksistensi Manusia di Alam Realitas

Sumber gambar: Pixabay

Manusia sebagai makhluk simbolik, rasional, dan memiliki kepekaan yang terdiri dari material (madiyyah) dan spiritual (ruhiyyah), sudah seharusnya menjadikan perenungan metodologis (at-taammul al-manhaji) sebagai salah satu aktivitas, khususnya dalam kesendirian. Perenungan merupakan suatu cara melahirkan hal baru untuk membuat kacamata kehidupan yang lebih segar terlebih jika terinspirasi dari adanya kesadaran akan perubahan anatomi sosial yang selalu berevolusi. Dengan melakukan perenungan, manusia akan mengetahui hakikat kehadirannya di tegah-tengah realitas kehidupan di alam realitas sehingga ia tidak terlepas dari identitas keeksistensiannya.

Baca juga Konsep Teori Abrogasi Perspektif Imam Juwaini dalam Mendialogkan Sumber Hukum Islam

Sebagai seorang manusia yang beragama, mereka telah terpatri pada dirinya dua tautan, entah disadari atau tidak, yaitu tautan yang bersifat partikal dan tautan yang bersifat horizontal. Dengan istilah yang lain disebut hubungan ciptaan (makhluq) dengan pencipta (khaliq) dan hubungan manusia dengan manusia lainnya sebagai mahluk sosial.

Berbicara tujuan eksistensi (keberadaan) manusia di muka bumi ini, hal yang perlu direnungkan adalah apakah manusia dengan dua komposisinya, yaitu material dan spiritual, hanya diciptakan untuk satu hal, yaitu hanya untuk merealisasikan keharmonisan hubungannya dengan Tuhan? Atau diciptakan hanya untuk merealisasikan keharmonisannya dengan manusia lain karena ia merupakan makhluk sosial?

Pada tulisan ini, penulis mencoba merenungkan pertanyaan kehadiran manusia di alam realitas tersebut dengan menjadikan Al-Quran dan sunnah Rasulullah saw. sebagai inspirasi perenungan. Sebagai umat beragama tidak etis rasanya jika terlepas dengan sumber aslinya kemudian mengatasnamakan kebebasan berpikir atau memonopoli kebenaran dengan hanya memegang pandangan sebelah pihak semata.

Allah Swt. dalam firmannya dalam surat Az-Zariyat ayat 56 menerangkan bahwa penciptaan jin dan manusia ditujukan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Menurut penulis, pemahaman akan tujuan penciptaan yang hanya untuk penyembahan ini belum seimbang jika hanya difokuskan ke dimensi spiritual. Kita sebagai makhluk diciptakan dalam suatu ruang realitas sosial yang juga perlu untuk diperhatikan dan direnungkan. Penciptaan manusia di muka bumi, sekalipun kehendak Allah Swt., tidak bergantung dengan adanya alasan kenapa manusia diciptakan karena secara teologis Allah tidak bergantung sekalipun kepada alasan (illat). Namun, penciptaan ini perlu perenungan yang didasari dengan sumber acuan yang disepakati, yaitu Al-Quran dan sunah, agar kehadiran kita sebagai manusia tidak terlepas dengan realitas keeksistensiannya di alam realitas.

Sebagai makhluk sosial, manusia secara kodratnya membutuhkan satu sama lain karena manusia, baik laki-laki ataupun wanita dan setangguh apa pun dirinya, akan selalu mencari sandaran, entah kepada manusia maupun Tuhan. Pada intinya, yang ingin penulis tekankan adalah manusia hidup dalam realitas sosial akan tetap bergantung.

Pertanyaanya, apa tujuan hadirnya manusia di tengah manusia lainnya atau makhluk sekitar? Setelah merenungkan hal ini maka terlintas firman Allah pada surat Hud ayat 18 dan 19 yang mengatakan “Mereka senantiasa berbeda kecuali yang telah diberikan kasih sayang oleh Tuhanmu, dan untuk itu (kasih sayang) Tuhanmu menciptakan mereka”. 

Dalam ilmu etika, kasih sayang atau rahmat merupakan etika yang memiliki derajat yang paling tinggi. Sebagaimana yang dijelaskan Fakhruddin Ar-Razi dalam buku tafsirnya, Mafatih al-Ghaib, dalam pembahasan surah Al-Fatihah mengatakan “Ketahuilah rahmat adalah suatu istilah untuk makna yang bersih dari penyakit (yang ada pada diri) dan memberikan kebaikan kepada orang yang sedang membutuhkan”. 

Berdasarkan definisi Fakhruddin Ar-Razi tersebut mengadung dua poin, yaitu pertama terhindar dari penyakit pada diri sendiri dan kedua memberikan kebaikan kepada orang lain. Pada poin yang kedua ini, istilah rahmat mengindikasikan kontribusi sosial di mana “sebaik-baik manusia adalah dia yang memberikan kontribusi positif kepada orang lain” sebagaimana riwayat hadis yang disebutkan oleh Ibn Hibban dalam bukunya AlMajruhin.

Tujuan untuk merealisasikan keharmonisan dalam bentuk kasih sayang atau rahmat di alam semesta dengan berpegang pada pemahaman Fakhurddin Ar-Razi telah digariskan dalam Al-Quran surah Al-Anbiya ayat 107 bahwa “Tidaklah kami mengutusmu (Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi sekalian alam”. Juga dikuatkan dengan hadis Rasulullah saw. “Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan kemuliaan-kemuliaan akhlak”.

Dengan demikian, tujuan manusia hadir di tengah alam realitas ini agar seimbang antara dua hal, yaitu merealisasikan keharmonisan antara hubungan pribadinya dengan Tuhan sebagai ciptaan dan merealisasikan keharmonisan hubungannya dengan manusia dalam bentuk menyebarkan rahmat atau kasih sayang sebagai makhluk realitas yang hidup di tengah masyarakat sosial.

Penulis: Muhammad Solahudin, LL.B.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: