Muhasabah di Akhir Tahun

Muhasabah atau introspeksi adalah momentum diri sendiri melihat ke belakang dan merenungi apa yang ia telah lalui selama setahun, bermanfaat ataukah hanya menyia-nyiakan waktu dengan percuma. Tentu muhasabah ini sangat penting bagi setiap orang mengingat pergantian tahun tinggal menghitung hari, namun diri ini masih tunduk pada hawa nafsu sedangkan ibadah pun masih belum khusyuk dan dosa pun kian menumpuk.

Baca juga: Kekejaman Umat Kristen Terhadap Keilmuan

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (Al Hasyr / 59 : 180).

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya:

“Firman Allah, وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ maksudnya adalah introspeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan perhatikan amalan saleh yang telah kalian persiapkan untuk hari kemudian dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.”

Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

“Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah diri kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”

Maka dari itu, sudah sepantasnya kita memuhasabah diri ini. Bagaimana ibadah kita, muamalah kita, ucapan kita, dan seluruh tingkah laku, apakah sudah maksimal? Ataukah masih banyak kekurangan? Momentum akhir tahun ini kita gunakan untuk menyambut tahun yang akan datang, jangan sampai kita berjalan di muka bumi ini tanpa tujuan seperti orang yang berjalan di kegelapan tanpa penerangan. Perlu diingat bahwa kita diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala tidak lain untuk beribadah kepada-Nya.

Tentu kita sebagai penuntut ilmu agama juga perlu bermuhasabah, sudah sejauh mana kita belajar, menghafal, dan memurajaah. Jangan sampai label thalib syar’i ini hanya label belaka. Mari kita perbarui niat kita lagi agar semangat kembali membara seperti pertama kali kaki kita menginjakkan debu Sudan dengan banyak rancangan dan target tergambar di kepala.

Dikatakan oleh seorang ustaz Teruslah belajar sampai mutqin seakan-akan kalian akan diuji dan pulang ke Indonesia. Bersabarlah menikmati prosesnya seakan-akan kalian akan belajar seribu tahun lagi. Jangan pernah menjauh dari ilmu. Sekali kita mengabaikan pelajaranpelajaran yang kita pernah pelajari maka pasti akan lupa. Ilmu itu pencemburu, sekali kalian mengabaikan maka ia akan berpaling”.

Ustaz Beben pernah menulis dalam akun Facebooknya “Kadang thalib (termasuk saya ) ingin seperti Syekh Fulan yang hafal kitab, nazam, dan menguasai suatu bidang keilmuan dan seterusnya. Tapi di sisi lain kita tidak mau mengikuti jejak syekh tersebut: belajar belasan jam, rela capek, ikut talaqqi meski cuaca sangat panas atau sangat dingin, menghabiskan waktunya dengan ilmu, dan lain-lain. Tidak seperti kita yang sering membuang waktu dan menyia-nyiakannya, bergadang tidak jelas, kumpul-kumpul unfaedah, dan lain-lain. Lantas tiba-tiba ingin seperti Syekh Fulan yang kita dambakan? Hidup bukan hanya sekedar ingin dan angan-angan!”

Mari kita sambut tahun baru ini dengan kembali menata niat untuk meningkatkan ibadah dan belajar kita. Masih ada waktu sebelum masa belajar selesai. Pergunakan waktu sebaik-baiknya. Kumpulkan bekal sebanyak mungkin sebelum pulang ke kampung halaman. Jangan sampai menyesal di akhir ibarat nasi sudah menjadi bubur.

اَلْوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِذَا لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ

“Waktu adalah pedang. Jika kau tidak (pandai) memainkannya, maka ia akan memotongmu.”

Pada kalam hikmah di atas, jika dalam tahun mendatang seseorang tidak menggunakannya dengan hal-hal positif, seperti ibadah dan kebajikan lainnya, maka tahun itu akan menggunakan seseorang untuk memperlakukannya terhadap hal-hal yang negatif. Semoga kita senantiasa dalam keistikamahan di jalan yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Penulis: Zoelbasith

2 Responses

Tinggalkan Balasan