Pengaruh Kemoderatan dalam Penyebaran Islam

Agama Islam hadir disebabkan oleh faktor penyebarannya, karena letaknya di semenanjung Arab yang sangat memungkinan dengan mudah berhubungan dengan kawasan sekitarnya lewat jalur darat maupun laut dari arah penjuru timur, barat, utara, maupun selatan.

Posisi geografis yang sangat strategis ini tidak hanya menjadi faktor utama dalam aspek penyebaran islam, namun juga merupakan aspek yang dapat menghubungkan seluruh penjuru dunia islam, dimana seluruh komunitas muslim yang berada dikawasan penjuru sekitar saling berhubungan, tidak terpisahkan dari kehidupannya, sejarahnya, dan budayanya dari asal mula Islam. Baik melalui perdagangan, pernikahan, maupun berkah silaturahim bersama-sama.

Baca juga: Ilmu Kalam; Antara Teosentris dan Antroposentris

Dengan begitu, maka kohesi (hubungan tarik-menarik) dinamis antar budaya masyarakat kaum muslimin di berbagai wilayah kawasan pada setiap kurun masa senantiasa sudah terjalin, meskipun sebelumnya tidak ada hubungan relasi politik atau yang lainnya. Bahkan dengan begitu, interaksi antar kaum muslimin sudah menjadi pilar pokok dalam bangunan peradaban Islam di berbagai masa lintas generasi zaman.

Kita perlu merenung sejenak untuk memperhatikan apa saja yang telah berhasil diungkap oleh sejumlah ulama Islam, setelah melakukan pengkajian, penelitian, dan pengamatan, bahwa kota Makkah al-Mukarramah yang di tengah-tengahnya terdapat al baitul haram adalah pusat bola dunia. Temuan ini tidak hanya isyarat, tapi sekaligus menjadi petunjuk bagi orang-orang yang berakal.

Baca juga: Memaknai Humanisme KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Semenjak kemunculan umat Islam sebagai umat pertengahan dalam sejarah, berkembanglah kemanusiaan meskipun melalui masa yang sangat panjang menuju puncak kesempurnaan, meskipun dengan tertatih-tatih keringat, sampai derai luka; setelah melalui pengalaman hidup kaumnya, silih bergantinya Nabi dan utusan Rasul; di mana generasi-generasi terdahulu memberikan warisan kepada yang baru; warisan manusia yang sedang berkembang, di mana generasi baru mengambil dari generasi terdahulu, lalu mengembangkannya untuk kemudian mewariskannya kepada generasi berikutnya sampai realitas kehidupan yang ada sekarang ini.

Adapun kenabian dan risalah yang ada pada masa itu adalah sarat petunjuk, hidayah, kebaikan, kebenaran, dan kesempurnaan, hingga diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan puncak kesempurnaan Islam yang merupakan tujuan tertinggi. Namun jangan sampai tujuan akhir tersebut membuat kaum muslimin stagnan, berhenti, dan beristirahat. Tetapi, tujuan akhir itu seharusnya mendorong mereka untuk melakukan perjuangan sungguh-sungguh demi menggapai tujuan manusia yang berperadaban.

Islam fitrahnya datang untuk meluruskan agama-agama samawi terdahulu yang telah diselewengkan, tugasnya membenahi dari kerusakan, menjauhkan dari segala yang mengotori fitrah kecemerlangan, mengembalikan orisinal keaslian dan membersihkan dari kezaliman generasi pengikut yang sudah menyimpang. Karena semua agama samawi tersebut adalah milik Tuhan yang hanya berlaku bagi kaum tertentu, dan pada masa dan tempat tertentu. Maka perlu diketahui hakikat agama-agama tersebut guna meluruskan setiap perkara yang berkaitan dengan agama Nabi Muhammad, di mana Nabi diutus untuk membenarkan agama-agama terdahulu sebagai risalah kesempurnaan.

Seperti itulah umat Nabi Muhammad, umat moderat yang bertanggung jawab untuk menampakkan risalah-risalah samawi terdahulu dalam bentuk hakikatnya, sebagai penolong bagi para utusan, saksi dalam pengadilan sejarah yang dijadikan oleh Tuhan sebagai aspek terpenting dari amanah terbesar yang dibebankan kepada para utusan dan orang istimewa yang sudah asyik mesra bersamanya.

Oleh: Gedibal Sandal

Baca juga Ngaji Sorogan Sebagai Upaya Mengukuhkan Identitas Santri

Tinggalkan Balasan