Spirit Keilmuan dan Peran Global Muslimah

Islam mewajibakan muslim laki-laki dan perempuan untuk mencari ilmu dengan menggunakan kata perintah yang sama, yaitu faridloh; sangat wajib. Kedua jenis makhluk ini dituntut merawat spirit yang sama dalam hal keilmuan, dan juga spirit pengamalannya meskipun laki-laki dan perempuan dibedakan tugas dan ruang geraknya agar hidup harmonis dan saling melengkapi.  Namun demikian, bukan berarti peran perempuan benar-benar terbatas sebagaimana laki-laki dan perempuan dalam sejarah Islam gotong royong membangun dan merawat peradaban.

Baca juga: Peran Muslimah untuk Pertumbuhan Generasi Bangsa

Berkaca pada sejarah, nama-nama besar seperti Khadijah binti Khuwailid ra, Siti Fathimah Az-Zahra ra, Asma binti Abu Bakar ra, Sumayyah ra, Ummu Habibah binti Abu Sufyan ra, dan lain sebagainya merupakan masa rintisan generasi muslimah yang usianya hanya dipersembahkan untuk kemulian Islam di semua aspek kehidupan, tentunya dalam konteks perjuangan di masyarakat tradisional, jika tidak dibilang primitif (jahiliyah). Sosok-sosok inilah yang dapat dijadikan inspirasi dalam hal pergerakan Muslimah dari zaman ke zaman.

Spirit keilmuan yang dimiliki oleh sosok Sayidah Fatimah terbukti memberikan manfaat yang sangat besar bagi keberlangsungan pendidikan di tingkat global. Universitas al-Azhar yang didirikan oleh para pembela Ahlul Bait di masa Dinasti Fatimiyah merupakan warisan nyata. Kata al-Azhar yang diambil dari kata “al-Zahra” bagian dari spirit keilmuan Fatimah al-Zahra, sosok perempuan generasi awal yang memberikan pengaruh tidak hanya di kawasan Mesir dan Afrika Utara, melainkan dunia. Selain al-Zahra, Fatimah al-Fihri sosok saudagar perempuan kelahiran Kairouan, Tunisia, juga berperan dalam dunia keilmuan dengan mendirikan universitas pertama di dunia, yaitu Universitas al-Qarawiyyin, di kota Fez, Maroko.

“Di belakang laki-laki sukses ada perempuan hebat”.

Di abad 21 saat ini, peran perempuan di skala global baik secara langsung atau tidak langsung juga tidak bisa dianggap sepele. Banyak sekali perumpuan muslimah yang sudah berkecimpung di dunia ekonomi dalam skala besar di samping politik, sosial, pendidikan, dan rumah tangga yang menopang keberhasilan dan kebesaran kaum laki-laki sebagaimana ungkapan yang cukup populer; “Di belakang laki-laki sukses ada perempuan hebat”.

Sebut saja Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan Indonesia yang pernah mendapat penghargaan sebagai Menteri terbaik di dunia dan mampu mengawal Presiden RI menjadikan  Indonesia dipercaya sebagai Tuan Rumah G20 2022.  Shirin Ebadi seorang pengacara muslimah dan hakim perempuan Iran yang mendapatkan penghargaan berupa Nobel Perdamaian pada tanggal pada tahun 2003 atas upayanya menegakkan demokrasi dan hak asasi manusia.  

Peran perempuan di ranah politik dan birokrasi tidak hanya menentukan kebijakan pemerintah nasional, melainkan juga mendukung kebangkitan peradaban global. Muslimah secara tidak langsung memberikan kemaslahatan terhadap umat manusia di dunia. Jika perempuan merupakan komponen dalam keluarga dan masyarakat serta “sekolah pertama” bagi anak-anak maka sebuah peran tersendiri yang menentukan peradaban sebuah bangsa.

Jika peran Muslimah dalam pembangunan Umat dan masyarakat sudah terbukti dengan mendirikan berbagai lapangan kerja yang berbasis syariah, maka yang dibutuhkan adalah optimalisasi akses birokrasi dan organisasi untuk bisa ekspor ke luar negeri, di samping akses digital yang bisa memberikan dampak positif yang sangat besar. Hal-hal yang bisa membatasi pengembangan potensi perempuan untuk berkontribusi secara luas seperti kesibukan sebagai Ibu Rumah Tangga, kurangnya rasa percaya diri menjalankan sesuatu yang masih dianggap aneh jika perempuan pemegang kendalinya dan budaya patriarki yang sangat kuat di semua sektor kehidupan, bisa diatasi secara arif dan bijaksana. Terlebih hal ini dianggap biasa terjadi dan tidak dapat dipermasalahkan kerena sudah menjadi citra di masyarakat.

Namun bukan alasan bagi seorang Muslimah untuk mengabaikan potensi dan peluang yang dimiliki. Bagi yang sudah memiliki potensi dan peluang, seorang Muslimah perlu memperhatikan tingkat akumulasi pengetahuan dan jaringan (akses) yang dia miliki, di samping bahasa pengantar yang produktif untuk mengambil peran global, sebagaimana dicontohkan oleh Prof. Amani Lubis yang banyak berkiprah di negara-negara Timur Tengah atau Ning Yeni Wahid yang banyak berkiprah di negara-negara Barat dengan institusinya Wahid Foundation.

Penulis: Ustazah Umi Farida (Mustasyaroh PCI Muslimat NU Sudan)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: