Debat Elegan antara Imam Al-Ghazali vs. Para Filsuf

Berbicara tentang filsafat Islam, nampaknya tidak afdhol jika tidak menyebut Imam al-Ghazali. Ya, beliau adalah ulama yang multi disiplin ilmu. Maka, gelar “hujjatul Islam” pun layak diberikan kepadanya karena keluasan ilmunya. Sejak beliau masih kecil, peran orang tuanya dalam mengisi kehidupannya dengan dasar-dasar ilmu agama merupakan salah satu ramuan yang begitu manjur dalam menggodok keilmuan Imam al-Ghazali. Di umur beliau yang masih 7 tahun sudah hafal al-Qur’an di luar kepala. Bahkan di umurnya yang masih belasan, beliau sudah mengkaji kitab-kitab yang levelnya untuk kalangan orang dewasa.

Ini adalah salah satu kelebihan yang dimiliki beliau melalui kemampuan otak yang dimilikinya, sehingga mampu menghafal dan juga memahami kitab-kitab dengan mudah. Selain kelebihannya dalam menghafal dan memahami pelajaran, beliau merupakan ulama yang paling aktif menulis. Bahkan selama hidupnya, ratusan karya sudah beliau torehkan melalui tinta yang beliau goreskan dalam lembaran-lembaran kertas. Tentunya kita tidak bisa menyamakan gaya menulis beliau di zaman dahulu dengan zaman sekarang. Karena apa yang beliau tulis adalah merupakan hasil dari pengalaman serta perenungan beliau dalam dunia keilmuan untuk kemudian dituangkan dalam barisan tulisan. Sehingga nampak sebuah orisinalitas dari karya-karyanya.

Hampir semua karya-karya beliau tercipta karena dilatarbelakangi oleh permasalahan-permasalahan yang timbul di tengah-tengah masyarakat. Baik yang sifatnya akidah, syariah, hingga filsafat. Setiap ada permasalahan, maka beliau tergerak untuk menulisnya dalam sebuah karya. Dari situlah beliau menawarkan sebuah solusi dari hasil analisa yang dituliskan dalam bentuk buku, sekaligus beliau menunjukkan kelasnya sebagai seorang akademisi, yang sudah sepatutnya untuk mengembangkan keilmuan yang dimilikinya lewat analisa-analisa yang ditawarkan melalui media-media yang ada. Waktu itu memang buku merupakan sebuah media yang sangat dihargai keberadaannya, dan orang yang bisa membuat karya, maka dianggap kemampuannya sudah tinggi dalam keilmuan.

Ini mungkin hal yang perlu kita lestarikan di era sekarang. Dimana setiap orang banyak yang mengidolakan para ulama terdahulu, tapi tidak mau mengikuti jejak langkahnya dalam berkarya. Padahal jika mau membandingkan, fasilitas yang kita miliki di zaman sekarang lebih efisien dan mudah dalam menulis. Namun, semangat menulis itulah yang jarang terdeteksi di kalangan para pelajar ataupun akademisi.  Justru yang sering kita lihat adalah perdebatan-perdebatan yang tidak pernah ada ujungnya hanya karena perbedaan pendapat bahkan yang sifatnya furu’. Bahkan itu pun terkadang kurang elegan, karena perdebatan itu terjadi di medsos. Tentu ini menjadi sebuah catatan untuk generasi sekarang, dimana gairah kepenulisan begitu menurun.

Imam al Ghazali merupakan ulama yang memiliki gairah keilmuan yang tinggi. Selain lingkungan beliau yang kental dengan keilmuan, jiwa dan hati beliau sudah tertambat sepenuhnya untuk mengabdi pada keilmuan. Maka, tak heran jika ratusan karyanya berhasil ditorehkan melalui goresan tintanya. Di sisi lain, kegigihan dan keberanian beliau terhadap musuh-musuhnya yang hendak merusak nilai-nilai Islam dengan pemahaman-pemahaman baru yang sesat dan bathil tentunya menggerakkan hati beliau untuk memberikan argumentasi yang logis dan diterima akal, namun masih tetap dengan esensi wahyu.

Dalam hal inilah Al-Ghazali mencoba mendobrak para pemikir-pemikir Islam yang sekiranya sudah melenceng dengan argumentasi-argumentasi yang beliau tawarkan melalui beberapa karyanya. Kepakaran beliau dalam beberapa bidang disiplin ilmu mengantarkannya dalam perdebatan-perdebatan sengit bersama para ulama sezamannya maupun sesudahnya. Baik dalam bidang fiqh, ilmu kalam, filsafat, dll. Karya-karyanya pun tak lekang oleh zaman untuk senantiasa dikaji.

Salah satu perdebatan sengit yang terjadi adalah antara Ibnu Rusyd dengan Imam al-Ghazali. Walaupun keduanya hidup tidak sezaman. Namun, kritikan yang disampaikan Imam al-Ghazali melalui karyanya “Tahafutul Falasifah” ternyata mendapat reaksi dari ulama-ulama setelahnya. Salah satu reaksi yang menonjol datang dari Ibnu Rusyd. Sehingga,  beliau pun menanggapinya juga dengan karya yang berjudul “Tahafutut Tahafut”.

Dalam bukunya, al-Ghazali menulis 20 daftar kerancuan logika para filsuf muslim terkait teologi Islam yang dari 17 diantaranya dinyatakan sesat atau bid’ah dan 3 sisanya dianggap sebagai tanda kekafiran. Diantara 3 perkara tersebut yaitu pendapat filsuf bahwa alam itu azali atau kadim (eternal in the past), pendapat filsuf bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal yang partikular (juz’iyyat), dan paham filsuf yang mengingkari adanya kebangkitan tubuh jasmani di hari akhirat.

Dan kritik tersebut ditujukan kepada para filsuf muslim, khususnya Ibnu Sina dan Al-Farabi. Dari sinilah para orientalis menggoreng isu tersebut, serta menyatakan bahwa kemunduran sains Islam disebabkan karena beliau. Padahal dalam bukunya, beliau hanya ingin menunjukan dengan tepat ketidaksesuaian antara keyakinan (para filsuf) dan kontradiksi kata-kata mereka, sehubungan dengan teologi, dan untuk menunjukan perubahan dan kekurangan cara berfikir mereka.

Sementara kritik Ibnu Rusyd terhadap tiga poin yang disampaikan al-Ghazali meliputi:

  1. Pendapat tentang qidamnya alam.

Ibnu Rusyd menyanggah tentang pendapat Al-Ghazali yang menyatakan bahwa alam ada karena ada yang menciptakan. Artinya alam itu tidak qadim, melainkan haadits. Kalau alam tidak dikatakan tidak bermula, berarti alam bukanlah diciptakan. Dengan demikian tuhan bukanlah pencipta. Demikianlah argumen Al-Ghazali.

Lalu Ibnu Rusyd begitu pula para filsuf lainnya berpendapat bahwa “tuhan mengadakan sesuatu dari tiada” tidak mungkin terjadi. Karena dari tidak ada atau kekosongan tidak mungkin berubah menjadi ada. Yang mungkin terjadi adalah dari “ada” berubah menjadi “ada” dalam bentuk lain.

  • Pendapat tentang Pengetahuan Tuhan

Pernyataan Al-Ghazali yang menyatakan Tuhan mengetahui semua hal, tidak hanya yang bersifat kulli, melainkan juz’i. Sebab yang maujud  ini diciptakan karena kehendak Tuhan dan juga setiap yang terjadi di alam ini atas kehendak-Nya. Tidak ada hal yang terjadi di alam ini tanpa diketahui oleh Tuhan. Jadi, Tuhan mengetahui segala sesuatu secara rinci.

Sementara Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa Al-Ghazali dalam hal ini salah paham. Sebab para filsuf berpendapat bahwa pengetahuan tentang perincian yang terjadi di alam tidak sama dengan pengetahuan manusia. Jadi menurut Ibnu Rusyd bahwa, pertentangan antara Al-Ghazali dengan para filsuf timbul dari penyamaan pengetahuan Tuhan dengan pengetahuan manusia. Pengetahuan manusia tentang perincian diperoleh dari indera, dan dengan panca indera pengetahuan manusia tentang sesuatu selalu berkembang dan berubah.

Selanjutnya, Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa pengetahuan Tuhan merupakan sebab (bagi wujud perincian) yang tidak boleh berubah yang dialami juz’iyah. Pengetahuan tidak dibatasi oleh waktu. Pengetahuannya juga bersifat qadim. Meskipun demikian, pengetahuan tidak bisa diberi sifat, kulliyah atau juz’iyah. Sebab kedua sifat itu merupaan pengategorian manusia dan bukan merupakan kategori ilahi.

  • Pendapat yang mengatakan tentang bangkitnya jasmani

Masalah yang terakhir ini merupakan kategori menurut Al-Ghazali dan dihukumi kafir, yaitu tentang penginkaran terhadap kebangkitan jasmani di akhirat oleh para filsuf. Karena menurut beliau pendapat filsuf bertentangan dengan ayat al-Qur’an yang dengan tegas menyatakan bahwa manusia akan mengalami kenikmatan jasmani di surga dan kesengsaraan jasmani di neraka.

Dalam hal ini Ibnu Rusyd dan para filsuf tidak mengingkari adanya kebangkitan di akhirat, hanya saja terdapat perbedaan pendapat, ada yang menyatakan bahwa kebangkitan tersebut hanya ruhani saja, ada juga yang menyatakan keduanya rohani dan jasmani. Meskipun Ibnu Rusyd cenderung berpendapat bahwa kebangkitan itu hanya rohani saja.

Sungguhpun Imam Al-Ghazali berpendapat dalam bukunya “Tahafut al-Falasifah” bahwa kebangkitan tidak hanya pada rohani saja, melainkan jasmani, tetapi dalam tulisannya yang pada buku yang berbeda beliau menyatakan bahwa kebangkitan, bagi kaum sufi akan terjadi hanya dalam bentuk rohani tanpa jasmani. Dengan demikian Al-Ghazali telah membatalkan sendiri gugatan dan vonisnya terhadap para filsuf. Sejarah juga mencatat bahwa akhir kehidupan beliau adalah sebagai tokoh sufi.

Ibnu Rusyd pun berpendapat, sungguh pun demikian bahwa bagi orang awam soal pembangkitan itu perlu digambarkan dalam bentuk jasmani, dan tidak hanya bentuk ruhani, karena dengan begitu bagi kaum awam akan tergerak untuk senantiasa melakukan pekerjaan-pekerjaan baik serta meninggalkan perbuatan jahat.

..perdebatan terjadi antara para intelektual akan terasa elegan dan bermartabat, selama ditempuh dengan jalur yang akademis dan ilmiah

Demikianlah sebuah dialektika keilmuan yang sempat menghiasi jagat keilmuan di era keemasan Islam. Tentunya walaupun secara sekilas bahwa adanya perdebatan antara para ulama terdahulu seolah menjadi sebuah catatan negatif, namun justru demikian mengingatkan kita tentang keluasan ilmu dalam Islam. Sehingga membangkitkan lagi gairah kita dalam mengarungi samudera keilmuan, serta menempuhnya dengan cara yang elegan dan intelektual. Sungguh pun perdebatan itu terjadi antara para intelektual akan terasa elegan dan bermartabat, selama ditempuh dengan jalur yang akademis dan ilmiah.

Khartoum, 02/05/2022

Falah El-Qahwa

Baca juga Apa Landasan Dalam Berpikir?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: