Era digital saat ini bisa dikatakan sebagai era matinya kepakaran (meminjam istilah Tom Nichols). Era dimana semua orang bisa mengakses informasi dan merasa layak menyuarakan pemikirannya di ruang publik, terutama di dunia maya.
Segala hal bisa dikomentari oleh siapapun dan dengan latar belakang apapun. Mulai dari isu kesehatan hingga isu agama. Namun, isu agama dan politik adalah isu yang paling laris akhir-akhir ini.
Dalam isu agama, tak sedikit yang merasa bebas mengutarakan opininya terhadap isu-isu besar hingga berani berfatwa tanpa disertai rujukan-rujukan otoritatif.
Banyak orang yang tidak diketahui latar belakang pendidikan agamanya, tetapi karena viral dan terlanjur ditokohkan tiba-tiba menjadi rujukan agama.
Akibatnya, fakta-fakta objektif dari para pakar agama terhadap sebuah isu selalu kalah menarik dan tidak memiliki pengaruh dalam membentuk opini publik, dibanding daya tarik emosi serta kepercayaan personal terhadap seseorang yang dianggap vokal menyuarakan agama.
Padahal suara seorang pakar agama sangat dibutuhkan dalam menghadapi setiap isu dan situasi genting yang dihadapi umat. Ya, walau terkadang seseorang pakar bisa keliru atau membuat kesalahan konyol dalam pernyataannya, tetapi setidaknya dia adalah orang yang telah mencoba beragam kesalahan di bidangnya semasa belajar hingga kekeliruannya saat mentransfer ilmu bisa dihindari atau diminimalisasi. Lagi pula, seorang pakar agama memahami ranjau-ranjau kesalahan di bidangnya dengan baik ketimbang yang bukan pakar.
Oleh karena itu, ketika pendapat seorang pakar agama benar maka dia mendapat dua pahala, dan bila keliru, syariat tetap mengapresiasinya dengan satu pahala sebagai balasan atas usahanya menuju kebenaran.
Berbeda dengan “pakar” agama dadakan yang bermodal kecerdasan “jalanan” yaitu dia yang apabila berijtihad, maka benar dan salahnya tetap dianggap dosa.
Prinsip ini menunjukan bahwa islam adalah agama yang sangat menghargai kepakaran. Selain itu, kesalahan seorang pakar berbeda dengan kesalahan seorang yang amatir.
Namun, fakta menunjukkan seringkali manusia bertepuk riuh untuk satu pandangan keagamaan yang dianggap hebat, meski dari seseorang yang berbicara di luar bidangnya, mereka tak peduli dengan banyaknya kekeliruan orang tersebut yang disebabkan ketidaktahuan terhadap bidang yang dikomentarinya, fakta ini sering berulang.
Sebaliknya, caci maki sering diarahkan kepada pakar agama yang keliru dalam satu masalah dengan mengabaikan banyaknya kebenaran yang dimilikinya, padahal pakar tetaplah pakar, dimana kesamaan antara dia dan masyarakat awam adalah sama-sama manusia.
Di antara akibat buruk dari matinya kepakaran yang paling terasa akhir-akhir ini adalah metode belajar agama yang makin tidak karuan. Banyak orang yang merasa tak butuh ustaz atau kiai dalam belajar agama.
Mereka seolah bisa mengetahui persoalan agama melalui terjemahan artikel atau fatwa-fatwa yang beseliweran di internet, padahal belum tentu penerjemahan artikel atau fatwa-fatwa tersebut benar, dan belum tentu kasus yang melatarbelakangi setiap fatwa bisa dianalogikan dengan kasus lainnya. Hal seperti ini sangat ramai terutama di kalangan muslim urban yang tidak punya cukup waktu untuk belajar agama.
Akibatnya, setiap hari kita dipertontonkan oleh kegaduhan yang timbul karena perselisihan di antara orang awam akibat fakta ilmiah yang diterima secara setengah-setengah dari media-media online. Benarlah apa yang dikatakan Tom Nichols bahwa keributan di wilayah publik seringkali diisi oleh orang-orang yang tak jelas kepakarannya.
Kepakaran bukanlah keahlian melontarkan spekulasi dan isu-isu trivial yang dianggap penting. Kepakaran bukan soal mengetahui, tetapi memahami sesuatu dengan tashowwur (gambaran) yang baik.
Baca juga: Lima Hal yang Menjadi Fokus Tuk Hadapi Ramadan Kali Ini
Tentu anda akan sepakat bahwa sangat berbeda antara pengetahuan orang yang hobi membaca ilmu ushul fiqh dan orang yang ahli dalam mengaplikasikan ilmu tersebut. Sama bedanya dengan pengetahuan peneliti sejarah dan pembaca sejarah yang tak mengerti ilmu kritik sejarah atau pengetahuan ahli pembuat kapal perang dengan pengetahuan pecinta kapal perang yang pernah membaca buku yang berjudul Janes Fighting Ships. Anda juga akan sepakat bahwa orang yang telah membaca buku berjilid-jilid di bidang kedokteran tak serta merta bisa membuka tempat praktik.
Wallahu a’lam bisshawab.
Penulis: Fathul Mubin Bachmid (Anggota PCINU Sudan)!
Bagikan ini:
- Klik untuk berbagi di Linkedln(Membuka di jendela yang baru)
- Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)
- Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)
- Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)
- Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru)