PCINU Sudan; Sejarah, Legalitas, dan Hal yang Perlu Diketahui Generasi Milenial

PCINU Sudan; Sejarah, Legalitas, dan Hal yang Perlu Diketahui Generasi Milenial

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan didirikan pada tanggal 1 Muharam 1420 H bertepatan dengan 6 April 2000 M bertempat di Masjid Agung Khartoum Sudan dengan keputusan Bapak Dr. H. Ahmad Sayuti Anshori Nasution, MA sebagai Rais Syuriyah dan Bapak H. Muhammad Sangid, MA sebagai Ketua Tanfidziyah PCINU Sudan periode 2000-2001 M.

Pada tanggal 23 Januari 2002 M, NU Khartoum Sudan diresmikan sebagai “PCINU SUDAN” di Wisma Duta Besar RI Khartoum Sudan untuk waktu yang tak terbatas melalui Surat Keputusan PBNU, yang saat itu Ketua Umum PBNU ialah KH. Ahmad Hasyim Muzadi kemudian beberapa pengurus PBNU berkunjung ke Sudan dan meresmikan berdirinya PCINU Sudan dengan disaksikan langsung oleh Prof. Dr. KH. Said Agil Munawar, MA (Katib ‘Aam PBNU yang juga menjabat sebagai menteri agama pada saat itu).

Setelah NU Khartoum Sudan diresmikan menjadi PCINU Sudan, PCINU Sudan mendapat pengakuan resmi dan terdaftar di bawah perlindungan Kementerian Irsyad dan Wakaf Sudan pada tanggal 23 September 2007 M. Pada saat itu, PCINU Sudan dipimpin oleh Bapak H. Muhammad Amiruddin, MA sebagai Rais Syuriyah dan Bapak H. Mirwan Akhmad Taufiq, BA sebagai Ketua Tanfidziyah.

Berdirinya PCINU Sudan tidak lepas dari kebutuhan untuk belajar berorganisasi, berdakwah, dan bermasyarakat meskipun banyak tantangan dan rintangan baik dari dalam dan dari luar. Bahkan saat itu ada sebagian kelompok yang menginginkan agar NU tidak berdiri di Sudan. Akan tetapi, berkat rahmat dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, PCINU Sudan tetap eksis sampai sekarang.

Baca Juga: Mendalami Wawasan Keilmuan, PCINU Sudan Adakan Safari Ilmiah dan Kuliah Al-Qur’an

Pada saat awal berdirinya, PCINU Sudan tidaklah seperti sekarang ini. Bahkan pada masa tersebut, jumlah mahasiswa Indonesia di Sudan hanya sekitar 30-40 mahasiswa saja. Sangat jauh bila dibandingkan dengan masa sekarang yang mencapai lebih dari seribu mahasiswa aktif menuntut ilmu di negeri yang memiliki julukan Negeri Seribu Darwis dan Negeri Dua Nil ini. Begitu juga organisasi kemahasiswaan Indonesia di masa tersebut, tidak ditemukan organisasi apapun selain organisasi PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Sudan. Namun pada masa itu, tidak sedikit mahasiswa yang memiliki beragam warna dalam ideologi berbeda.

Para pendiri PCINU Sudan

Maka dengan misi dan ideologi yang sama, Bapak Erwin Suhandi dan teman-teman sejawatnya memutuskan untuk membentuk organisasi Nahdlatul Ulama di Sudan. Bahkan mereka sampai memutuskan untuk studi banding ke PCINU Mesir untuk menyempurnakan NU Khartoum Sudan yang baru seumur jagung berdiri. Berkat jasa-jasa beliau inilah, pemikiran, budaya, dan ajaran dari Hadlaratussyekh Hasyim Asy’ari dapat berkembang dan lestari di negara yang berbatasan dengan Mesir dan Arab Saudi ini.

Adapun tujuan dari didirikannya Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan sendiri tidak lepas dari tujuan yang ditetapkan oleh Muktamar NU ke-30 tahun 1999 di PP. Lirboyo Kediri, Jawa Timur (Bab IV pasal 5 & 6). Namun secara spesifik, PCINU Sudan dibentuk dalam rangka menyukseskan program “Go Internasional” yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas intelektual kader, mempersiapkan calon-calon ulama yang berwawasan luas, menjalin silaturahmi “Ukhuwah Nahdliyah” (Ukhuwah Islamiyah, Wathoniyah, Basyariyah) dengan organisasi-organisasi Islam dan organisasi Internasional yang ada, serta untuk meningkatkan kualitas hidup Nahdliyin (warga NU) secara khusus dan masyarakat secara umum.

Secara garis besar, tujuan PCINU Sudan pada masa sekarang ini adalah merealisasikan visi “Mencetak Kader Ulama yang Berkualitas Internasioanal” dan merealisasikan misi “Menjadikan NU Sebagai Organisasi yang Bermanfaat bagi Seluruh Alam (Rahmatan lil ‘Alamin)”. Adapun visi dan misi tersebut ditunjang dengan moto, “Memaksimalkan Khidmah dan Membumikan NU di Sudan dengan Semangat Intelektual Ulama”.

Alhamdulillah sudah terbukti bahwa PCINU Sudan telah membumikan NU di negara Sudan ini dengan adanya para Mustasyar PCINU Sudan dari kalangan warga Sudan yang jumlahnya tujuh orang pada tahun 2017-2018. Mereka dari berbagai bidang, ada yang dari masyayikh tarekat, ulama, pengusaha, dokter, rektor, dan dekan yang ada di berbagai kampus di Sudan.

Pada periode 2017-2018, Ketua Tanfidziyah saat itu ialah H. Muhammad Luqman Hambali, B.Sh, terjadi restrukturasi kepengurusan harian dengan mengangkat empat orang sebagai wakil ketua Tanfidziyah. Masing-masing di bidang keorganisasian, kegiatan, kaderisasi dan kemahasiswaan, serta hubungan diplomasi luar. Melalui restrukturasi ini, PCINU Sudan efisien dan lancar program kerjanya. Pada periode ini juga, PCINU Sudan mengangkat Mustasyar baru yaitu Syekh Dr. Mohamed Nour (Dirut Welcome to Sudan), dimana melalui jasa beliau kuota mahasiswa PCINU Sudan bertambah setiap tahunnya.

Semenjak PCINU Sudan didirikan, kantor atau wisma PCINU Sudan telah memberikan manfaat yang besar hingga saat ini. Terbukti, wisma PCINU sering digunakan untuk kegiatan sosial keagamaan, kemasyarakatan, pengajian untuk WNI yang ada di sudan serta untuk warga NU khususnya, baik dipakai kegiatan diskusi, ngaji kitab, membaca doa-doa, membaca buku maulid Nabi Muhammad dan khatmil qur’an.

Pada periode 2019-2020 terdapat penambahan Mustasyar baru PCINU Sudan yaitu Syekh Awadl Al Karim Utsman Al Aqli, Musnid Sudan dan Ketua Bidang Keilmuan Majma Sufi. Beliau dan organisasi Majma Sufi memiliki salah satu tujuan utama yaitu merawat dan menjaga benteng Aswaja di bumi Sudan yang merupakan satu misi dengan kehadiran NU di Indonesia. Beliau pun sudah beberapa kali berkunjung dalam rangka safari ilmiah ke beberapa wilayah di Indonesia.

Prestasi-prestasi PCINU Sudan

  • Menjalin hubungan dengan Kementerian Irsyad dan Wakaf Sudan, Khalwah Tahfidzul Qur’an di daerah Kadabas, Munadzamah as Salam, Darul Mushaf Ifriqi, dan berbagai lembaga lainnya.
  • PCINU Sudan adalah organisasi teraktif di Sudan. Bahkan pada periode 2017/2018, tercatat ada sekitar 600 kegiatan yang terselenggara pada periode tersebut.
  • Menghubungkan PBNU dengan Pemerintah Sudan. Terbukti dengan mengundang KH. Ahmad Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU saat itu) dalam acara “Problematika Dakwah Islam di Sudan”, beliau disandingkan dengan Presiden Sudan dan juga diberi kesempatan untuk menyampaikan sambutan atas nama PBNU. Kemudian kehadiran Ketua Umum PBNU ke Sudan bersama Perusahaan Supreme Energy, PBNU diberi salah satu blok minyak yang ada di Sudan.
  • Aktif dalam kegiatan nasional (Sudan) dan Internasional yang telah diadakan oleh Majlis A’la Liddakwa Al-Islamiyah Sudan.
  • Aktif dalam kegiatan yang diadakan oleh WAFIDIN.
  • Mendapat jatah beasiswa program S1 dan S2 dari berbagai lembaga.
  • Lembaga Persahabatan Indonesia – Sudan. Dalam hal ini PCINU Sudan dipercaya untuk menjalankan dua proyek penting yaitu pengajaran Bahasa Indonesia kepada penduduk Sudan dan penerjemahan buku-buku Indonesia kedalam bahasa Arab dari karya Syekh Syurkati (Muballigh Sudan sekaligus tokoh pendiri Jam’iyah Al-Irsyad di Indonesia).
  • Menjalin hubungan dengan Dewan Zakat Sudan.
  • Menjalin hubungan dengan Al-Majlis Al-Qoumiy li Ad-Dzikri Wa-Dzakirin. Kegiatan NU dimuat dalam majalah AL-FAYD milik Al-Majlis Al-Qoumiy li Ad-Dzikri Wa-Dzakirin yang disebarkan ke beberapa negara Arab.
  • Menjalin hubungan dengan Bank Tadamon Sudan.
  • Menjalin hubungan dengan Radio resmi milik pemerintah Sudan, dalam hal ini PCINU Sudan berkesempatan memperkenalkan visi dan misinya sekaligus menampilkan kesenian rebana dari tim JSQ (Jam’iyyah Syifaul Qulub) melalui siaran radio pemerintah Sudan.
  • Diundang dalam berbagai acara televisi Sudan.
  • Menjalin hubungan dengan masyarakat Sudan, orang-orang asing yang ada di Sudan, ulama, masyayikh tarekat dan para rektor yang ada di Universitas di Sudan.
  • Menjalin hubungan dengan Pengusaha Sudan DR. Al-Fatih Ali Hasanain yang mendapat lencana dari Presiden Sudan, seorang tokoh Sufi yang masih produktif dalam menulis sekaligus mantan aktifis Persatuan Pelajar Islam di Eropa Timur. 
  • Menjalin hubungan dengan DR. Hamd Umar Hawy, Pakar Politik sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Politik Universitas Juba – Khartoum – Sudan. Beliau punya buku yang berjudul “Corak Negara Islam antara Sekuler dan Teokrasi.”
  • Merintis peluang program beasiswa bagi para pelajar Indonesia yang berminat meneruskan belajar dengan sistem non-formal dibeberapa pondok pesantren (Khalwah) di Sudan.
  • Mengusulkan kepada pihak Al-Majlis Al-Qoumiy li Ad-Dzikri Wa-Dzakirin agar bekerja sama dengan PBNU untuk menyelenggarakan “Muktamar Toriqoh Internasional ” dan usulan ini mendapat sambutan baik.
  • Merintis pengajian untuk masyarakat Indonesia yang ada di Sudan atau biasa kita kenal dengan “Pengajian Al Hijrah”.
  • Menjalin kerjasama dengan Majma Lughoh Al Arobiah, organisasi international  di bidang pengembangan bahasa arab.
  • Menjalin kerjasama dengan Majma Sufi Sudan dan melaksanakan beberapa kajian tentang sufisme Sudan.
  • Mendirikan Tim Penggerak Ekonomi menuju PCINU Sudan Mandiri, meliputi usaha Waroeng 26, Ningrat Loundry, Juragan Transfer, dan Madani Travel.

Rais Syuriyah Dan Tanfidziyah PCINU Sudan Dari Awal Berdiri Hingga Saat Ini:

  1. Dr. H. Ahmad Sayuti Anshori Nasution dan H. Ahmad Sangid, MA (2000 – 2001)
  2. Dr. H. Syuhada’ Sholeh dan H. Hafidz Muhammad amin, M.Ed (2001 – 2002)
  3. H. Muhammad Shofwan, MA dan H. Lathoif Ghozali, MA (2002 – 2003)
  4. Dr. M. Badrus Salam, MA dan H. Muhammad Afifullah, MA (2003 – 2004)
  5. Dr. M. Badrus Salam, MA dan H.M. Iqbal Luthfi, BS (2004 – 2005)
  6. Dr. H. Muhammad Afifullah, MA dan Dr. H. Hilmy As-shidiqie (2005 – 2006)
  7. Dr. H. Muhammad Afifullah, MA dan Dr. H. Muhammad Shohib Rifa’I, MA (2006 – 2007)
  8. H. Muhammad Amiruddin, MA dan Dr. H. Mirwan Akhmad Taufiq, M.Ed, MA (2007 – 2008)
  9. H. Muhammad Amiruddin, MA dan H. Abdul Wahab Naf’an, BA (2008 – 2010)
  10. Dr. H. Muhammad Shohib Rifa’i, MA dan H. Abdussalam, BS (2010 – 2011)
  11. Dr. H. Muhammad Shohib Rifa’i, MA dan H. Lian Fuad, BS (2011 – 2012)
  12. Dr. H. Marwan Akhmad Taufiq, MA dan H. Miftahuddin Ahimmi, MA (2012 – 2013)
  13. H. Auza’i Mahfudz, MA dan H. Miftahuddin Ahimmi, MA (2013 – 2014)
  14. H. Zainul Alim, MA dan H. Miftakhul Munif, MA (2014 – 2015)
  15. H. Shiddiq Ismanto, MA dan H. A. Luqman Fahmi, BS (2015 – 2016)
  16. Ribut Nur Huda, M.Pd, MA dan H. A. Azim Aufaq, BS (2016 – 2017)
  17. Ribut Nur Huda, M.Pd, MA dan H. Muhammad Luqman Hambali, B.Sh (2017 – 2018)
  18. H. Muhammad Luqman Hambali, B.Sh dan H. Muthi’ullah B.Sh (2018 – 2019)
  19. H. Muhammad Akhyaruddin, B.Sh dan Eri Prasetyanto, B.Sh (2019 – 2020)
  20. H. Dzakwanul Faqih, B.Sh dan Hibatullah Zain, B.A (2020 – 2021)
  21. H. Khafidzul Umam, B.Sh, M.A. dan Muhammad Abdur Rokhim, B.S (2021 – 2022)

2 Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: